Daftar Blog Saya

  • Abu Ayub Al-Anshari - *Abu Ayub Al-Anshari* Nama lengkapnya Khalid bin Zaid bin Kulaib. Beliau berasal dari keluarga Bani Najjar Mendapatkan kehormatan untuk tempat singgah Ras...
    1 tahun yang lalu

Sabtu, 29 Desember 2012

Abu Ayub Al-Anshari


Abu Ayub Al-Anshari
Nama lengkapnya Khalid bin Zaid bin Kulaib. Beliau berasal dari keluarga Bani Najjar

Mendapatkan kehormatan untuk tempat singgah Rasul setelah sampai di Madinah pada saat berhijrah.

Pada saat Rasul memasuki Madinah semua kaum Anshar berharap agar beliau tinggal di rumah mereka. Secara silih berganti mereka menghalangi unta Nabi dengan maksud untuk diarahkan ke rumah mereka. Tetapi Nabi mengatakan, “Biarkanlah unta ini! Dia telah diperintahkan.” Maka unta beliau pun terus berjalan dan baru berhenti di halaman rumah Abu Ayub Al-Anshari.

Abu Ayub gembira sekali melihat hal itu, maka dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri dan menyambut Nabi dengan hati gembira bercampur haru. Dia pun membawa barang bawaan Nabi masuk ke rumahnya. Ketika itu dia merasakan seolah membawa seluruh isi kekayaan dunia.

Rumahnya terdiri dari dua tingkat. Nabi memilih tingkat pertama, agar lebih mudah menemui para sahabat yang datang. Tetapi hal itu membuat Abu Ayub Al-Anshari tidak bisa tidur semalaman. Dia merasa tidak sopan untuk tidur di atas Nabi. Karenanya, dia mendatangi Nabi di pagi hari dan meminta beliau untuk pindah ke tingkat atas. Seketika itu wajah Nabi berseri-seri, lalu mengatakan, “Jangan repotkan dirimu, Abu Ayub! Tingkat bawah lebih cocok bagi kami karena banyaknya orang yang datang.” Abu Ayub mengatakan, “Aku, mematuhi perintah Rasul itu. Hingga pada suatu malam yang sangat dingin, kendi kami pecah dan airnya tumpah ke lantai. Karena takut tumpahan air itu sampai ke tingkat bawah, tempat Rasul, aku dan istriku cepat-cepat berdiri dan menghampiri tempat tumpahan air itu, lalu mengelapnya dengan sehelai kain beledu, satu-satunya kain yang kami punya dan biasa kami pakai untuk selimut. Di pagi harinya, aku menemui Nabi dan mengatakan, ‘Demi bapakku, engkau dan ibuku! Aku tidak suka berada di atasmu, dan tidak suka engkau berada di bawahku.’ Lalu aku sampaikan cerita kendi tadi dan Rasul pun mau memahami dan naik ke tingkat atas. Aku dan istriku turun ke tingkat bawah.”

Rasul tinggal di rumah Abu Ayub Al-Anshari selama kurang lebih 7 bulan. Yaitu sampai selesai membangun Mesjid Nabi dan kamar-kamar yang berada di sampingnya. Nabi kemudian tinggal di kamar-kamar itu.

Abu Ayyub Al-Anshari berhati lembut, sangat menyintai Rasul, dan ringan tangan. Memiliki sebatang pohon kurma yang dia pakai untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Dia juga salah seorang pahlawan Islam. Mengikuti semua peperangan yang terjadi pada masa Rasul dan peperangan perluasan Islam setelahnya. Kecuali bila terjadi lebih dari satu peperangan dalam waktu yang bersamaan.

Pada masa Muawiyah, dia mengikuti pasukan yang dikirimnya untuk menaklukkan Konstantinopel padahal umurnya sudah mendekati 80 tahun. Di tengah perjalanan laut dia jatuh sakit. Pada saat menjenguk, Yazid bin Muawiyah, panglima perang saat itu, bertanya kepadanya, “Engkau mempunyai permintaan, wahai Abu Ayub?” Dia meminta bila mati agar dibawa oleh tentara dan dikuburkan di bawah pagar Konstantinopel. Dan ternyata dia meninggal pada saat itu.

Mayatnya dibawa oleh tentara di tengah-tengah pertempuran. Atas kehendak Allah, pasukan ?Islam sampai juga ke pagar Konstantinopel, maka mulailah mereka menggali kuburan dan menanam Abu Ayub Al-Anshari di sana.

Abul Ash bin Rabi


Abul Ash bin Rabi
Abul Ash bin Rabi al-Absyami al-Quraisyi, seorang pemuda kaya, tampan-rupawan, mempesona setiap orang yang memandang kepadanya. Dia berkecimpung dalam kenikmatan, dengan status sosial yang tinggi sebagai bangsawan. Dia menjadi model bagi ahli-ahli penunggang kuda bangsa Arab dengan segala persoalannya, kesombongan, cirri-ciri kemanusiaan, kesetiaan, dan kebangsaaan warisan nenek moyang atau turunan.

Abul Ash memang mewarisi dari Quraisy bakat dan keterampilan berdagang pada dua musim, yaitu musim dingin dan musim panas. Kendaraannya tidak pernah berhenti pulang dan pergi antara Mekah dan Syam. Kafilahnya mencapai jumlah seratus ekor unta dan dua ratus personel. Masyarakat menyerahkan harta mereka kepadanya untuk diperdagangkan, karena dia telah membuktikan kepintaraannya dalam berdagang, dan dia selalu benar dan dapat dipercaya.

Khadijah binti Khuwailid, istri Muhammad bin Abdullah, adalah bibi Abul Ash bin Rabi. Khadijah menganggap Abul Ash sebagai anak kandungnya sendiri, dan melapangkan tempat baginya di hati dan di rumahnya, suatu tempat yang tidak ada taranya, terhormat dan penuh kasih sayang. Begitu juga kasih sayang Muhammad bin Abdullah kepada Abul Ash, tidak kurang pula dari kasih sayang Khadijah kepadanya.

Tanpa terasa, tahun demi tahun berlalu cepat melewati rumah tangga Muhammad bin Abdullah. Anaknya yang tertua telah menjadi putri remaja, berkembang seabgai bunga ros mengorak kelopak dengan indahnya. Sehingga pemuda-pemuda putra para bangsawan Mekah tergiur hendak memetiknya. Mengapa tidak ..? bukankah Zainab gadis Quraisy keturunan bangsawan murni yang berakar dalam. Sebagai putri dari ibu bapak yang mulia, dia beradab dan berakhlak tinggi. Tetapi, bagaimana mereka akan dapat memetiknya? Di antara mereka telah hadir putra bibi Zainab sendiri, seoran pemuda ganteng dan rupawan, yaitu Abul Ash Ibnu Rabi yang tidak asing lagi.

Belum begitu lama, baru beberapa tahun, berlangsung perkawinan Zainab binti Muhammad dengan Abul Ash, nur ilahi yang cemerlang memancar di kota Mekah yang diselimuti kesesatan. Allah SWT mengutus Muhammad sebagai nabi dan rasul-Nya dengan agama yang hak. Pada tahapan pertama Allah memerintahkan Nabi saw. supaya mengajak keluarga terdekat. Maka, wanita yang pertama-tama beriman, ialah istrinya, Khadijah binti Khuwailid, dan putri-putrinya: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah, sekalipun ketika itu Fathimah masih kecil, kecuali menantunya, Abul Ash. Dia enggan berpisah dengan agama nenek moyangnya dan enggan pula menganut agama istrinya, Zainab. Meski demiikian, Abul Ash tetap mencintai istrinya. Cintanya kepada Zainab tetap tulus dan murni.

Ketika pertentangan antara Rasulullah dengan kaum kafir Quraisy semakin meningkat, mereka saling menyalahkan, "Celaka kalian ..! sesungguhnya kalianlah yang membawa kesusahan. Kalian nikahkan putra-putri kalian dengan putri-putri Muhammad. Seandainya kalian kembalikan putri-putri Muhammad itu kepadanya, kita tidak akan memikirkannya lagi.
Jawab yang lain, "Itu suatu pemikiran yang bagus!" Lalu, mereka pergi menemui Abul Ash!

Kata mereka, "Hai Abul Ash, ceraikan isterimu! Kembalikan dia ke rumah bapaknya! Kami sanggup dan bersedia mengawinkanmu dengan siapa yang engkau sukai dari segudang wanita Quraisy yang cantik-cantik."
Jawab Abul Ash, "Tidak! aku tidak akan menceraikannya. Aku tidak hendak menggantikannya dengan wanita mana pun di seluruh dunia ini."

Dua orang putri Rasulullah, Ruqayah dan Ummu Kaltsum telah dicerai oleh suaminya dan diantar kemabli ke rumah bapaknya. Rasulullah gembira menerima kedua putrinya itu. Bahkan, beliau ingin kiranya Abul Ash mmelakukan pula hal yang sama terhadap istrinya, Zainab. Tetapi apa boleh buat, beliau tidak kuasa untuk memaksakan keinginannya itu. Di samping itu, ketika itu hukum Islam belum mengharamkan perkawinan wanita mukminah dengan pria musyrik.

Setalah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, kaum Quraisy memerangi beliau di Badar. Abul Ash terpaksa ikut berperang di pihak Quraisy, memrangi Rasulullah dan kaum muslimin. Dia memang sungguh-sungguh terpakasa karena tidak ada sedikit pun keinginan berperang dengan Rasulullah dan kaum muslimin. Dan, tidak ada satu kepentingan yang akan diperolehnya dengan memerangi mereka. Hanya, karena ia berdomisili bersama kaum yang memerangi Muhammad saw.

Perang Badar membawa kekalahan besar yang memalukan bagi kaum Quraisy, sehingga menundukkan puncak kesombongan kemusyrikan, keangkuhan, keganansan, dan kekejaman mereka. Di antaranya ada yang terbunuh, ada yang tertawan, dan ada pula yang melarikan diri. Abul Ash, suami Zainab binti Muhammad, termasuk kelompok orang yang tertawan.

Rasulullah mewajibakan setiap tawanan menebus diri mereka dengan uang tebusan, jika mereka ingin bebeas. Beliu menetapkan uang tebusan itu antara seribu sampai dengan empat ribu dirham, sesuai dengan kedudukan dan kekayaan tawanan itu dalam kaumnya. Maka, berdatanganlah para utusan pulang dan pergi antara Mekah dan Madinah membawa uang untuk menebus orang-orang yang tertawan.

Zainab binti Muhammad mengutus utusan ke Madinah dengan uang tebusan untuk menbus suaminya, Abul Ash. Dalam uang tebusan itu terdapat antara lain sebuah kalung milik Zainab, hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwailid, pada hari perkawinan Zainab dengan Abul Ash. Ketika Rasulullah melihat kalung tersebut, wajah beliau berubah sedih dengan kesedihan yang sangat mendalam, membayangkan rindu kepada anaknya, Zainab, atau mungkin teringat dengan almarhumah istrinya, Khadijah binti Khuwailid.

Rasulullah menoleh kepada para sahabat seraya berkata, "Harta ini dikirim oleh Zainab untuk menebus suaminya, Abul Ash. Jika tuan-tuan setuju, saya harap tuan-tuan bebaskan tawanan itu tanpa uang tebusan. Uang dan harta Zainab kirimkan kembali kepadanya." Jawab para sahabat, "Baik, ya Rasulullah! Kami setuju!

Rasulullah membebaskan Abul Ash dengan syarat dia mengantarkan zainab kepada beliau. Maka, setibanya di Mekah, Abul Ash segera berbuat sesuatu untuk memenuhi janjinya kepada Rasulullah. Diperintahkan istrinya agar segera bersiap untuk melakukan perjalan jauh ke Madinah. Para utusan Rasulullah menunggu tidak jauh dari luar kota Mekah. Abul Ash menyiapkan perbekalan dan kendaraan untuk kepergian istrinya. Abul Ash menyuruh adiknya, Amr bin Rabi, mengantar Zainab dan menyerahkannya kepada utusan Rasulullah.

Amr bin Rabi menyandang busur dan membawa sekantong anak panah. Zanab dinaikkannya ke Haudaj. Mereka pergi ke luar kota tengah hari, dihadapan orang banyak kaum Quraisy. Melihat mereka pergi, orang-orang Quraisy bangkit marahnya dan heboh. Lalu, mereka susul keduanya dan mereka dapatkan belum jauh dari kota. Zainab mereka takut-takuti dan mereka ancam. Tetapi, Amr telah siap dengan busur panah dan meletakkan kantong anak panah di hadapannya. Kata Amr, "Siapa mendekat, aku panah batang lehernya."

Amr menang, terkenal dengan pemanah jitu yang titak pernah gagal bidikannya. Di tengah-tengah suasana tegang seperti itu, tibalah Abus Sufyan bin Harb yang sengaja dihubungi mereka. Kata Abu Sufyan, "Hai, anak saudaraku! letakkan panahmu! Kami akan bicara denganmu."
Amr meletakkan panahnya. Kata Abu Sufyan, "Perbuatanmu ini tidak betul, hai Amr. Engkau membawa Zainab keluar dengan terang-terangan di hadapan orang banyak dan di depan mata kami. Orang Arab seluruhnya tahu akan kekalahan mereka di Badar dan musibah yang ditimpakan bapak Zainab kepada kami. Bila engkau membawa Zainab secara terang-terangan begini, berarti engkau menghina seluruh kabilah ini sebagai penaku, lemah dan tidak berdaya. Alangkah hinanya itu. Karena itu, bawalah Zainab kembali kepada suaminya untuk beberapa hari. Setelah penduduk tahu kami telah berhadil mencegah kepergiannya, engkau boleh membawanya seara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, jangan dia siang bolong seperti ini. Engkau boleh mengantarkannya ke bapaknya. Kami tidak mempunyai kepentingan apa-apa untuk menahannya.

Amr setuju dengan saran Abu Sufyan. Dibawanya Zainab kembali ke rumah suaminya di Mekah. Sesudah beberapa hari kemudian Amr membawa Zainab ke luar kota dengan sembunyi-sembunyi pada tengah malam, dan menyerahkanknnya kepada para utusan bapaknya dari tangan ke tangan, sebagaimana dipesankan abangnya, Abul Ash bin Rabi.

Sesudah berpisah dengan istrinya, Abul Ash tetap tinggal di Mekah bebrapa waktu hingga menjelang pembebasan kota Mekah. Dia berdagang ke Syam sepreti yang biasa dilakukannya sebelumnya.

Pada suatau hari dalam perjalanan pulang ke Mekah, dia menggiring seratus ekor unta sarat dengan muatan, dan seratus tujuh puluh personel yang menggiring unta tersebut. Di tangah jalan, dekat Madinah, kafilahnya dicegah oleh pasukan patroli Rasulullah. Unta-untanya dirampas dan orang-orang yang menggiringnya ditawan. Tetapi, mujur bagi Abul Ash, dia lolos dari tangkapan dan bersembunyi. Setelah malam tiba dan hari sudah gelap, dia masuk ke kota Madinah dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali. Sampai di kota dia mendatangi rumah Zainab, minta bantuan dan perlindungan kepadanya. Zainab melindunginya.

Ketika Rasulullah saw. keluar hendak salat subuh, beliau berdiri di mihrab, dan takbir ihram. Jamaah pun takbir mengikuti beliau. Zainab berteriak dari shuffah (tempat para wanita). Katanya, "Hai, manusia! saya Zainab binti Muhammad! Abul 'Ash minta perlindungan kepada saya. Karena itu, saya melindunginya!"

Setelah selesai salat, Rasulullah berkata kepada jamaah, "Adakah tuan-tuan mendengar teriakan Zainab?"
Jawab mereka, "Ada ...! Kami mendengarnya, ya Rasulullah!"
Kata Rasulullah, "Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya! Saya tidak tahu apa-apa tentang hal ini, kecuali setelah mendengar teriakan Zainab."

Kemudian Rasulullah pergi ke rumah Zainab. Katanya, "Hormatilah Abul Ash! Tetapi, ketahuilah, engkau tidak halal lagi baginya."
Lalu, beliau memangil pasukan patroli yang bertugas semalam, dan menangkap unta-unta serta menahan orang-orang dari kafilah Abul Ash. Kata beliau kepada mereka, "Sebagaimana kalian ketahui, orang ini (Abul Ash) adalah famili kami. Kalian telah merampas hartanya. Jika kalian ingin berbuat baik, kembalikanlah hartanya. Itulah yang kami sukai. Tetapi, jika kalian enggan menggembalikan, itu adalah hak kalian, karena harta itu adalah rampasan yang diberikan Allah untuk kalian. Kalian berhak mengambilnya."

Jawab mereka, "Kami kembalikan, ya Rasulullah!" Ketika Abul Ash datang mengambil hartanya, mereka berkata kepadanya, "Hai Abul Ash! Engkau adalah seorang bangsawan Quraisy. Engkau anak paman Rasulullah dan menantu beliau. Alangkah baiknya kalau engkau masuk Islam. Kami akan serahkan harta ini semuanya kepadamu. Engkau akan dapat menikmati harta penduduk Mekah yang engkau bawa ini. Tinggallah bersama kami di Madinah."

Jawab Abul Ash, "Usul kalian sangat jelek dan tidak pantas. Aku harus membayar utang-utangku segera." Abul Ash berangkat ke Mekah membawa kafilah dan barang-barang dagangannya. Sampai di Mekah dibayarnya seluruh utang-utangnya kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Kemudian dia berkata, "Hai kaum Quraisy! Masih adakah orang yang belum menerim pembayaran dariku?"
Jawab mereka, "Tidak! Semoga engkau dibalasi Tuhan dengan yang lebih baik. Kami telah menerima pembayaran darimu secukupnya."
Kata Abul Ash, "Sekarang ketahuilah! Aku telah membayar hak kamu masing-masing secukupnya! Maka, kini dengarkan! Aku mengaku tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad sesungguhnya Rasulullah! Demi Allah! tidak ada yang menghalangiku untuk menyatkan Islam kepada Muhammad ketika aku berada di Madinah, kecuali kekhawatiranku kalau-kalau kalian menyangka aku masuk Islam karena hendak memakan harta kalian. Kini setelah Allah membayarnya kepada kamu sekalian dan tanggung jawabku telah selesai, aku menyatkan masuk Islam."

Abul Ash keluar dari Mekah, pergi menemui Rasulullah saw. Beliau menyambut mulia kedatangannya, dan menyerahkan istrinya Zainab kembali ke pangkuannya.

Rasulullah berkata, "Dia berbicara kepadaku, aku mempercayainya. Dia berjanji kepadaku, dia memenuhi janjinya."

Sumber: Shuwarum min Hayatis Shahabah, Abdurrahman Ra'fat Basya


Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdurrahman bin Auf: Penakluk Kepalsuan Dunia



Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan sahabat yang mula-mula masuk Islam. Ia termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasululah. Selain itu, ia juga termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah menggantikan Umar bin Khaththab. Ia adala seorang mufti yang dipercaya Rasulullah untuk berfatwa di Madinah.

Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah Saw melakukan pembinaan di rumah Arqam bin Abil Arqam, kira-kira dua hari setelah Abu Bakar masuk Islam.
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah. Abdurrahman pernah ditawari Sa'ad untuk memilih salah satu dari dua kebunnya yang luas. Tapi, Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta kepada Sa'ad ditunjuki lokasi pasar di Madinah.
Sejak itu, Abdurahman bin Auf berprofesi sebagai pedagang dan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Omset dagangannya pun makin besar, sehingga ia dikenal sebagai pedagang yang sukses.
Tapi, kesuksesan itu tak membuatnya lupa diri. Ia tak pernah absen dalam setiap peperangan yang dipimpin Rasulullah. Suatu hari, Rasulullah Saw. berpidato membangkitakn semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berkata, "Bersedekahlah kalian, karena saya akanmengirim pasukan ke medan perang."
Medengar ucapan itu, Abdurrahman bin Auf bergegas pulang dan segera kembali ke hadapan Rasulullah. "Ya, Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan sisanya aya tinggalkan untuk keluarga saya," ucap Abdurrahman. Lalu Rasulullah mendoakannya agar diberi keberkahan oleh Allah Swt.
Ketika Rasulullah Saw. membutuhkan banyak dana untuk menghadapi tentara Rum dalam perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menjadi salah satu pelopor dalam menyumbangkan dana. Ia menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Melihat hal itu, Umar bin Khaththab berbisik kepada Rasulullah Saw, "Agaknya Abdurrahman berdosa, dia tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya."

Maka, Rasulullah pun bertanya kepada Abdurrahman, "Adakah engkau tinggalkan uang belanja untuk keluargamu?"
Abdurrahman menjawab, "Ada, ya Rasulullah. Mereka saya tinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripda yan gsaya sumbangkan."
"Berapa?" Tanya Rasulullah.
Abdurrahman menjawab, "Sebanyak rizki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan Allah." Subhanallah.

Sejak itu, rizki yang dijanjikan Allah terus mengalir bagaikan aliran sungai yang deras. Abdurrahman bin Auf kini telah menjadi orang terkaya di Madinah.

Suatu hari, iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 ekor unta yang dimuati bahan pangan, sandang, dan barang-barang kebutuhan penduduk tiba di Madinah. Terdengar suara gemuruh dan hiruk-pikuk, sehingga Aisyah bertanya kepada seseorang, "Suara apakah itu?" 
Orang itu menjawab, "Iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman."
Aisyah berkata, "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Abdurrahman di dunia dan akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak."


Orang itu langsung menemui Abdurrahman bin Auf dan menceritakan apa yang didengarnya dari Aisyah. Mendengar hal itu, ia pun bergegas menemui Aisyah. "Wahai Ummul Mukminin, apakah ibu mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?"
"Ya," jawab Aisyah.
"Seandainya aku sanggup, aku ingin memasuki surga dengan berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fi sabilillah."

Sejak mendengar bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat berinfak dan bersedekahnya makin meningkat. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang,dan 1.500 ekor unta ia sumbangan untuk peruangan menegakkan panji-panji Islam di muka bumi. Mendengar hal itu, Aisyah mendoakan, "Semoga Allah memberinya minum dengan air dari telaga Salsabil (nama sebuah telaga di surga)."
Menjelang akhir hayatnya, Abdurrahman pernah disuguhi makanan oleh seseorang -- padahal ia sedang berpuasa. Sambil melihat makanan itu, ia berkata, "Mush'ab bin Umair syahid di medan perang. Dia lebih baik daripada saya. Waktu dikafan, jika kepalanya ditutup, makakakinya terbuka. Dan jika kakinya ditutup, kepalanya terbuka. Kemudian Allah membentangkan dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sungguh, saya amat takut kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah di dunia ini." Setelah itu, ia menangis tersedu-sedu.
Abdurrahman bin Auf wafat dengan membawa amalnya yang banyak. Saat pemakamannya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, "Anda telah mendapat kasih sayang Allah, dan anda telah berhasil menundukan kepalsuan dunia. Semoga Allah senantiasa merahmati anda. Amin." (sh).
Sumber: eramuslim.com

Abdullan Bin Ummi Maktum


Abdullan Bin Ummi Maktum
Abdullan Bin Ummi Maktum

Siapakah laki laki yang karenanya Nabi yang mulia mendapat teguran dari langit dan menyebabkan beliau sakit? Siapakah dia, yang karena peristiwanya Jibril Al amin harus turun membisikkan wahyu Allah kedalam hati nabi yang mulia?

Dia tiada lain adalah ‘ABDULLAH BIN UMMI MAKTUM, Muadzin Rasulullah.

'Abdullah bin Ummi Maktum adalah orang Mekah dari suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah saw. Yaitu anak paman Ummul Mu'minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwanullah 'Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya 'Atikah binti 'Abdullah. Ibunya bergelar “Ummi Maktum“ karena anaknya 'Abdullah lahir dalam keadaan buta total.

'Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, 'Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita atas siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan-kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah? Tidak! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan Kitabullah. Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan seringh mendatangi majlis Rasulullah saw.

Begitu rajin dan rakusnya dia mendatangi majlis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al Quran, sehingga setiap waktu senggang selalu diisinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu disebutnya. Bahkan dia sangat rewel. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkannya dari Rasulullah, disamping keuntungan bagi yang lain-lain juga.

Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, mengharapkan semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, 'Amr bin Hisyam alias Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan walid bin Mughirah, ayah saifullah Khalid bin walid.

Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau.

Sementara beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba 'Abdullah bin Ummi maktum datang mengganggu dan minta dibacakan kepadanya ayat-ayat al qur'an.

Kata 'Abdullah, “Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!”

Rasul yang mulia terlengah memperdulikan permintaan 'Abdullah. Bahkan beliau agak acuh kepada interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi 'Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan pemimpin Qurausy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar.

Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah bermaksud hendak pulang. Tetapi tiba-tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau:

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti.” (QS 80: 1-16)

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al Amin ke dalam hati rasulullah sehubungan dengan peristiwa 'Abdullah bin Ummi maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Sejak hari itu Rasulullah tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi 'Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilahkan duduk ditempat duduk beliau. Beliau tanyakan keadaannya dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan 'Abdullah demikian rupa; bukankah teguran dari langit itu sangat keras!

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi-jadi, Allah Ta'ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. 'Abdullah bin Ummi Maktum bergegas meninggalkan tanah tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama-sama Mush'ab bin Umair sahabat  sahabat Rasul yang pertama-tama tiba di Madinah. Setibanya di Yatsrib (Madinah), 'Abdullah dan Mush'ab segera berdakwah, membacakan ayat ayat Quran dan mengajarkan pengajaran Isalam.

Setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat 'Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin Rabah menjadi Muadzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka 'Abdullah qamat. Dan bila 'Abdullah adzan, maka Bilal qamat.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal adzan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk sahur, dan 'Abdullah adzan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makam minum dan segala yang membatalkan puasa.

Umtuk memuliakan 'Abdullah bin Ummi Maktum, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi Wali Kota Madinah menggantikan beliau, apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada Abdullah. Salah satu diantaranya, ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy.

Setelah perang Badr, Allah menurunkan ayat-ayat Al Quran, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai santai. Ayat ayat tersebut sangat berkesan di hati 'Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada rasulullah, “Ya Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi berperang.”

Kemudian dia bermohon kepada Allah dengan hati penuh tunduk, semoga Allah menurunkan pula ayat-ayat mengenai orang-orang yang keadaannnya cacat (udzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak turut berperang. Dia senantiasa berdoa dengan segala kerendehan hati. Katanya, “Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang uzur seperti aku!”

Tidak berapa lama kemudian Allah memperkenankan doanya

Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah yang bertugas menuliskan wahyu menceritakan, “Aku duduk di samping Rasulullah. Tiba-tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak diatas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, “Tulislah, hai Zaid!”

Lalu aku menuliskan, “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah…” (QS 4: 95)

Ibnu Ummi berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang karena cacat)?”

Selesai pertanyaan 'Abdullah, Rasulullah berdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah berkata, “Coba baca kembali yang telah engkau tulis!”

Aku membaca, “Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang).” Lalu kata beliau. “Tulis!“ Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.” Maka turunlah pengecualian yang diharap-harapkan Ibnu Ummi Maktum.

Meskipun Allah SWT telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang uzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekat itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang. Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.”

Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah 'Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang adil dan bertauhid. 'Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, 'Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang-orang bersenjata, atau orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah 'Umar. Diantara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, 'Abdullah bin Ummi Maktum. Khalifah 'Umar mengangkat Sa'ad bin Abi Waqqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa'ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. 'Abdullah bin Ummi Maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pindahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ' Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin. Radhiyallahu'anhu!!!!

http://www.fosmil.org/


Nyata: Abdullah bin Abbas - Lisannya bertanya, Qalbunya mencerna
Dipublikasi pada Tuesday, 28 October 2003
Topik: Kisah & Hikmah
Kisah & Hikmaholeh: Abu Akhyar
Aldakwah.org--Di antara sahabat-sahabat RasuluLlah SAW, terdapat beberapa sahabat kecil yang ketika melafadzkan syahadat mereka berusia sangat muda, atau ketika mereka dilahirkan, ayah bunda mereka telah muslim. Perhatian RasuluLlah SAW kepada para sahabat cilik ini, tidak berbeda dengan sahabat-sahabat yang lainnya. Bahkan beliau sangat memperhatikan mereka dan meluangkan waktu untuk bermain, bicara dan menasehati mereka.

AbduLlah bin Abbas (Ibnu Abbas) adalah salah satu kelompok sahabat junior ini. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah. Semenjak kecilnya, beliau sudah menunjukkan kecerdasan dan kesungguhannya terhadap suatu masalah. RasuluLlah mengetahui potensi besar yang ada pada anak muda ini, seperti halnya beliau melihat potensi yang sama pada Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan sahabat-sahabat cilik lainnya.
RasuluLlah SAW sering terlihat berdua bersama si kecil AbduL lah bin Abbas. Suatu ketika, misalnya, RasuluLlah SAW mengajak Ibnu Abbas RA berjalan-jalan seraya menyampaikan tarbiyahnya kepada pemuda cilik ini:

"Ya ghulam, maukah engkau mendengarkan beberapa kalimat yang sangat berguna? 
Jagalah ALlah SWT (ajaran-ajaranNya), maka engkau akan menda patkanNya selalu menjagamu. Jagalah ALlah SWT (larangan-laranganNya), maka engkau akan mendapatkanNya selalu dekat di hadapanmu. Kenalilah ALlah dalam sukamu, maka ALlah akan mengenalimu dalam dukamu. Bila engkau meminta, mintalah kepada ALlah. Jika engkau memerlukan pertolongan, mohonkanlah kepada ALlah. Semua hal (yang terjadi denganmu) telah selesai ditulis. Ketahuilah, seandainya semua makhluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditaqdirkan ALlah untukmu, mereka tidak akan mampu membantumu. Atau bila mereka berkonspirasi untuk menghalangi engkau mendapatkan apa yang ditaqdirkan untukmu, mereka juga tidak akan dapat melakukannya. Semua aktifitasmu kerjakan lah dengan keyakinan dan keikhlasan. Ketahuilah, bahwa bersabar dalam musibah itu akan memberikan hasil positif; dan bahwa kemenangan itu dicapai dengan kesabaran; dan bahwa kesuksesan itu sering dilalui lewat tribulasi; dan bahwa kemudahan itu tiba setelah kesulitan. 
[Hadist Riwayat Ahmad, Hakim, Tirmidzi]

Demikianlah rangkaian prinsip aqidah, ilmu dan 'amal yang manakah hasil tarbiyah RasuluLlah itu? AbduLlah bin Abbas tumbuh menjadi seorang muslim yang penuh inisiatif, haus ilmu, dekat dengan ALlah dan Rasul-Nya.
Suatu ketika, Ibnu Abbas ingin mengetahui secara langsung bagaimana cara RasuluLlah shalat. Untuk itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya: ummahatul mu'minin, Maimunah bint al-Harist. Ketika itu ia melihat RasuluLlah bangun tengah malam dan pergi berwudhu. Dengan sigap Ibnu Abbas membawakan air untuk berwudhu, dengan demikian ia dapat melihat sendiri bagaimana RasuluLlah berwudhu. RasuluLlah - sang murobbi agung itu - tidak menyepele kan hal ini, beliau mengelus dengan lembut kepala Ibnu Abbas, seraya mendo'akan: "Ya ALlah, faqih-kanlah ia dalam perkara agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir Kitab-Mu."
Kemudian RasuluLlah berdiri untuk sholat lail yang dimakmumi oleh isteri beliau, Maimunah. Ibnu Abbas tak tinggal diam, dia segera berdiri di belakang RasuluLlah SAW; tetapi RasuluLlah kemudian menariknya agar ia berdiri sedikit berjajar dengannya. Ibnu Abbas berdiri sejajar dengan RasuluLlah, tetapi kemudian ia mundur lagi ke shaf belakang. Seusai sholat, RasuluLlah memper tanyakan sikap Ibnu Abbas ini, dan dijawab oleh Ibnu Abbas bahwa rasanya tak pantas dirinya berdiri sejajar dengan seorang Utusan ALlah SWT. RasuluLlah ternyata tidak memarahinya, bahkan beliau mengulangi do'anya ketika berwudhu tadi.
Ketika Ibnu Abbas berusia 13 tahun, RasuluLlah wafat. Beliau sangat merasa kehilangan. Tapi hal ini tidak menjadikannya bersedih atau lemah. Dengan segera ia mengajak teman sebayanya untuk bertanya dan belajar pada sahabat-sahabat senior mengenai apa saja yang berkenaan dengan RasuluLlah dan ajaran al-Islam. Logika Ibnu Abbas, saat itu mengatakan bahwa para sahabat masih berada di Madinah, inilah kesempatan terbaik untuk menimba ilmu dan informasi dari mereka, sebelum mereka berpencaran ke kota-kota lain atau sebelum mereka wafat. Namun sayang, ajakan ini tidak ditanggapi oleh rekan-rekan sebayanya, karena mereka rata-rata beranggapan bahwa para sahabat senior tidak akan memperhatikan pertanyaan anak-anak kecil macam mereka.
Ibnu Abbas tak patah arang. Beliau sendiri mendatangi para sahabat yang diperkirakan mengetahui apa saja yang ingin ia tanyakan. Dengan sabar, beliau menunggu para sahabat pulang dari kerja keseharian atau da'wahnya. Bahkan kalau sahabat tadi kebetulan sedang beristirahat, Ibnu Abbas dengan sabar menanti di depan pintu rumahnya, hingga tertidur, tergolek beralaskan pakaiannya. Tentu saja para sahabat terkejut menemui Ibnu Abbas tertidur di muka rumahnya, "Oh keponakan RasuluLlah, ada apa gerangan? Kenapa tidak kami saja yang datang menemuimu, bila engkau ada keperluan?" "Tidak,"kata Ibnu Abbas, "sayalah yang harus datang menemui anda."
Demikianlah masa kecil Ibnu Abbas. Bagaimana dengan masa dewasanya? Beliau katakan sebagai seorang muda yang berwawasan dewasa, yang lisannya selalu bertanya dan qalbunya selalu mencerna. Umar bin Khattab selalu mengundang Ibnu Abbas dalam majelis syuro'nya dengan beberapa sahabat senior, dan beliau selalu berkata kepada Ibnu Abbas agar ia tidak perlu sungkan menyampaikan pendapat. Inilah bentuk tarbiyah lain yang diperoleh oleh Ibnu Abbas, dengan selalu berada dalam kalangan sahabat senior.
Dalam masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, beliau berga bung dengan pasukan muslimin yang berekspedisi ke Afrika Utara, di bawah pimpinan AbduLlah bin Abi-Sarh. Beliau terlibat dalam pertempuran dan juga dalam da'wah di sana. Di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib RA, Ibnu Abbas mengajukan permohonan untuk menemui dan berda'wah kepada kaum Khawarij. Melalui dialog dan diskusinya yang intens, sekitar 12.000 dari 16.000 khawarij bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar.

AbduLlah bin Abbas, yang muda yang ulama, wafat dalam usia 71 tahun pada tahun 68H. Sahabat Abu Hurairah RA, berkata "Hari ini telah wafat Ulama Ummat. Semoga ALlah SWT berkenan memberikan pengganti AbduLlah bin Abbas." 

Wassalamu'alaikum



1001 Penyiksaan Di Balik Jeruji Besi Israel


1001 Penyiksaan Di Balik Jeruji Besi Israel


DR. Rifa’at Sayid Ahmad
Koran Arab-London 28/12/204
Pasti suatu saat akan diam untuk selamaya, suara-suara yang menyerukan penghentian militerisme intifadhah….. yang telah menyatu dengan rakyat Palestina bersama para tawanan, syuhada, dan para mujahid yang berjuang semenjak kesepakatan Oslo….
Setelah pejabat Intelejen Israel mengirimkan agen-agennya yang bernama “Azam-Azam” pada pekan terbunuhnya tiga tentara Mesir di perbatasan, tanpa aktifias apapun dari pihak Mesir!!! , maka Sharon bermaksud membalas dengan sesuatu yang bagus, Intel bagus, dan pembunuh tentara berdarah dingin yang ahli, oleh karena itu tidak ada jalan bagi dia kecuali melepaskan sekitar 100 tawanan Palestina, dengan syarat mereka tidak terlibat pembunuhan terhadap Israel, menurut kriteria mereka, yaitu dengan sangsi tahanan administratif.
Sekarang tiba saatnya melepaskan tawanan Palestina, ternyata mereka memperlambat, mereka tidak mempunyai sesuatu kecuali pelaksanaan janjinya, secepat niat baiknya. Bangsa Palestina hanya bisa menunggu janji-janji ini tanpa kepastian dan keyakinan, mereka sudah lama menunggu, lalu datang keputusan dari pihak Israel yang mau melepaskan 170 orang tawanan, yang kebanyakan dari mereka tidak ada hubungannya dengan masalah politik, mereka hanya korban dari kecongkakan Israel saja, mereka yang dilepaskan adalah tawanan yang sebenarnya sudah harus dilepaskan beberapa hari sebelumnya, yaitu ketika isyarat Sharon yang khayalan dan penghinaannya lebih banyak daripada isyarat-isyarat yang baik yaitu pembebasan tawanan sesungguhnya.
Kita dapat memmahami perkembangan seperti ini, bahwa masalah tawanan Palestina masih belum tertangani, karena hal itu sesuatu yang tidak diniatkan oleh Israel, setelah normalisasi yang panas dengan Mesir, lebih-lebih setelah penanda tanganan perjanjian “Kuwaiz” ringkasan dari Wilayah Perekonomian Berpenduduk, jumlah tawanan Palestina sebanyak 8000 lk/permukiman, mereka masih dalam penyiksaan dan penderitaan, mereka hidup di sutu tempat yang tidak layak buat manusia, senantiasa mendapatkan penyiksaan yang biadab.
Di tulisan yang akan datang kita akan mengungkap penderitaan yang sebenarnya terjadi bagi para tawanan tersebut. Kita bahas, kita ungkap dan beberkan kepada yang selama ini pura-pura tidak tahu, kepada orang yang selalu husnudzan terhadap niat dan prilaku teroris yang tidak mengerti bahasa kecuali senjata dan perlawanan. Apakah gerangan yang terjadi terhadap para pahlawan yang menjaga kehormatan negara ini, dan bagaimana penyiksaan serta penganiayaan yang tidak berprikemanusiaan terhadap mereka.
Kita akan berbicara tentang kejadian sebenarnya dari balik jeruji besi di negaranya sendiri. Para pemimpin Zionis itu tak kehilangan akal membuat bermacam-macam siksaan, guna mendesak para tawanan/tahanan Palestina dalam rangka menggali informasi dari mereka, meski mengakibatkan sakit kronis atau cacat seumur hidup. Bantuk-bentuk penyiksaan yang dialami para tawanan, diantaranya menyiramkan air es terutama di musim dingin dengan mengalirkan air dingin ketubuh tawanan tersebut dalam keadaan telanjang, otomais mereka menggigil hebat. Penyiksaan lain dengan hukuman duduk jongkok, dimana tahanan dipaksa terus berjongkok, kepalanya tidak boleh menyentuh langit-langit dan tidak boleh bersandar ke tembok serta tangan tidak boleh memegang lutut ataupun tanah, keadaan ini menimbulkan kelelahan yang luar biasa dan membuat pegal-pegal seluruh badan terutama kedua kaki, lengan, pundak dan tulang belakang. Selain itu ada juga penyiksaan dengan dipaksa duduk dikursi yang sangat kecil, sementara kedua tangan diikat, mata ditutup dan tidak boleh bergerak sedikitpun, hal ini menyakitkan sekali, karena punggung dan kakinya dipaksa menempel ke tanah. Yang tak kalah menyakitkan adalah dengan membenturkan kepala tawanan ke dinding, demikian juga mereka dipaksa untuk tidur terlentang sementara kedua tangannya diikat ke belakang, ini akan membuat sakit pada kedua tangannya karena tertindih badannya. Bentuk lain juga dengan menggunakan balok kayu yang di taruh di atas dada tawanan kemudian diduduki oleh yang lainnya. Dalam mengorek informasi dari pihak tawanan mereka sering menyulut badan tawanan dengan api rokok terutama di tempat-tempat perasa.
Para ekskutor sering menelanjangi para tawanan sementara kedua tangan diikat kebelakang, untuk mempermalukanya atau menghinakannya, mereka memukul dada dan perut tawanan dengan balok kayu, kedua tangannya di taruh diatas meja kemudian di pukuli dengan balok kayu, yang paling sering dipukuli oleh mereka adalah sekitar dada, di bawah leher dan ulu hati.
Menurut hasil investigasi Kementerian Tawanan dan Pembebasan Palestina yang dikeluarkan tahun 2004 bahwa 96 % dari seluruh tawanan Palestina di penjara-penjara Israel mengalami siksaan lebih dari satu jenis, 75% mengalami sindrome (ketakuatan amat sangat), 95% tidak bisa tidur, 87 % dipaksa untuk berdiri dalam waktu yang lama ….sebagaimana yang diungkapkan oleh ketua lapangan urusan tawanan ‘Isa Qoroqi’ di dalam kesaksiannya depan Lembaga Khusus Negara bidang investigasi perlakuan Zionis di daerah jajahannya. Beliau menegaskan bahwa 95% tawanan disiksa, dihina dan diinjak-injak kehormatannya.

Bentuk-Bentuk Siksaan Fisik
Tim Investiasi Palestina menegaskan, upaya terakhir mereka dalam masalah tawanan ini dengan memindahkan meraka ke salah satu tempat penjagaan Zionis yaitu : Al-Jalmah “Kisyon”, Tah Takfa “Hasyrun”, Al-Masykubiyah “Majra Syail Hero Sem, dan Asqolan “Syekima”. Mereka menyebutkan tempat-temapt ini pusat keamanan Zionis yang terdapat berbagai bentuk penyiksaan fisik maupun mental, ditempat ini terdapat ruang tahanan berukuran 1x 1 m2, di ruangan ini, tangan dan kaki tawanan terikat, mata ditutup, tanpa tempat tidur ataupun selimut, ruanganya lembab karena tidak masuk sinar matahari dan tak ada tempat sirkulasi udara, cuma ada lubang kecil tempat memasukan makanan, setelah tiga hari seorang tawanan diintimidasi dan disiksa, mereka disiksa lagi, yang sebelumnya dipaksa untuk berjalan kaki dengan waktu yang lama, tanpa henti, dia dilarang tidur, buang air dalam waktu yang lama, dipukul, dicaci atau diikat pada tempat-tempat yang sakit seperti dua betis sambil diikat kebelakang dan ditaruh di bawah kursi. Bentuk lain dengan didudukan di depan AC yang dingin dalam waktu yang lama hingga menggigil dan kemudian diganti dengan udara yang sangat panas, mereka menggunakan musik-musik yang keras serta menggunakan anjing dan membiarkannya menggigit para tawanan, dalam rangka menekan mereka, dengan ancaman akan membunuhnya. Tak sedikit dari keluarga tawanan yang ditangkap dan dianiaya, serta pelarangan menjenguk dari pihak pengacara atau keluarga. Mereka tidak hanya menangkap dan menyiksanya bahkan banyak sekali dari para tawanan yang sampai di bunuh dalam tahanan mereka. Ketua Urusan Tawanan‘Isa Qoroqi’ mengungkapkan, lebih dari 150 tawanan Palestina hilang setelah penangkapan mereka.

Bentuk-Bentuk Penyiksaan
Jika kita mengurutkan cara-cara penyiksaan mereka, maka kita akan menemukan hal itu di Majajlah Al-Fatah terbitan 14/9/2004 yang mengungkapkan sekitar 8 bentuk penyiksaan secara umum dan 19 cara penyiksaan bagi anak-anak Palestina secara khusus, jenis-jenis tersebut antara lain :
1.    Menyiramkan air dingin di musim dingin ke tubuh-tubuh tawanan sementara mereka dalam keadaan telanjang, hal ini dimaksudkan untuk membuat para tawanan mengigil dengan hebat dan merubah pola fikirnya.
2.    Membenturkan kepala tawanan ke tembok dengan maksud menyampaikan pesan fasismenya dari para ekskutor yang berakhir dengan pengakuan atau kematian, biasanya mereka membenturkan kepala tawanan ke dinding kamar tahanan, atau mengikat kedua tangan tawanan ke belakang kemudian membentangkan mereka di bawaha lantai, untuk memberikan rasa sakit pada kedua tangannya karena tertindih tubuhnya, mereka juga sering menggunakan kayu yang ditaruh di atas dada tawanan kemudian mereka menginjak-injak kayu tersebut, supaya para tawanan mengatakan rahasia-rahasiahanya.
3.    Menyulut tubuh tawanan dengan rokok : hal ini lebih menyakitkan lagi terutama di tempat-tepat yang peka terhadap rangsangan, sementara tubuh-tubuh mereka di telanjangi, kedua tangan diikat ke belakang, ini suatu penghinaan terhadap para tawanan, dengan maksud melumpuhkan mental para tawanan serta menggoncangkan keimanan dan keistiqomahan mereka untuk memudahkan penghancuran akhlaq dan nasionalisme mereka.
4.    Memukul dada dan ulu hati dengan balok kayu, atau dengan menaruh tangan tawanan di bawah meja, lalu mereka memukuli dada dan lambung tempat dibawah lehernya.
5.    Memaksa tawanan agar berdiri dengan kepalanya (posisi terbalik dimana kepala ada dibawah dan kaki di atas) kemudian mereka memukuli betis, paha dan perutnya dengan balok kayu, ini suatu bentuk penyiksaan yang biadab, mereka juga sering menekan kemaluan para tawanan dan menendang lambungnya dengan lutut mereka, sementara tubuh mereka telanjang, tangan diikat kebelakang.
6.    Mereka dipaksa ruku dibawah meja yang kakinya pendek dan menulungkupkan perutnya, sementara mata ditutup dengan kain yang bau menyengat, tangan diikat di kedua ujung meja, lalu mereka memukuli kedua tangan dan badanya membuat para tawanan sesak napas.
7.    Tak segan-segan mereka menendang atau memukul biji kemaluan tawanan, yang menyebabkan kesakitan yang amat sangat. Mereka memaksa para tawanan untuk berdiri setengah telanjang dengan membuka kedua pahanya sedang tangan mereka diikat ke belakang, kedua mata ditutup dengan kain kasar dan bau, lalu mereka memukulinya dengan tangan dan kaki serta menendang ke arah kemaluannya, tak sedikit diantara tawanan yang terluka atau pecah biji kemaluannya, menyebabkan bengkak atau cacat seumur hidup.
8.    Penerapan operasi penyiksaan, oprasi ini dengan memaksa para tawanan untuk menelungkup di atas punggungnya sementara kedua tangan diikat ke belakang dan mata ditutup, kemudian mereka memukuli wajah dan perutnya, mereka juga menekan dada dan lambung tawanan dengan kekuatan penuh, mengakibatkan luka memar di bagian depan tubuhnya, hal ini dimaksudkan untuk memaksa dan menghinakan para tawanan serta menyiksa mereka diluar batas kemanusiaan.

Ada juga bentuk lain yang lebih biadab dan kejam, dengan menelungkupkan perut dan muka tawanan ke tanah kemudian leher mereka diinjak sedang kepalanya dipukuli dengan selop atau sepatu. Tak jarang mereka memebenturkan kepala tawanan ke tembok yang menyebabkan luka atau geger otak. Mereka juga sering melakukan penyiksaan secara bersama-sama dengan membariskan para tawanan menghadap tembok sementara tangan terikat dan mata tertutup, tanpa pakaian kemudian mereka memukulinya dengan tongkat yang lentur pada tempat-tempat perasa menyebabkan sakit sekali dan berbekas di seluruh tubuhnya.
Adapun bentuk penyiksaan terhadap anak-anak hampir sama dengan apa yang dilakukan terhadap orang dewasa, akan tetapi ada bentuk-bentuk yang lain yang digunakan bagi mereka sebanyak 19 cara yaitu :
1. Tidak boleh bergerak sedikitpun di dalam penjara
2. Penyiksan yang keras terhadap mereka
3. Perlakuan biadab terhadap mereka
4. Menyatukan mereka dengan para tawanan kriminal
5. Tidak boleh dikunjungi keluarganya
6. Tidak boleh dikunjungi pengecara/pembelanya
7. Pemberlakuan pemindahan dan Isolasi
8. Tidak boleh membawa telepon
9. Perbedaan sanksi sesama tawanan
10. Bantuan Hukum
11. Pendobrakan terhadap kamar tahan
12. Penggeladahan dan perampasan milik tawanan
13. Dilarang belajar
14. Dilarang menggunakan Perpustakaan
15. Dilarang menggunakan syi’ar-syi’ar keislaman
16. Pelarangan bepergian dengan segera
17. Sanksi administratif adalah tuduhan tanpa bukti
18. Pengurangan makanan
19. Tidak peduli dengan kesehatan, hal ini mengakibatkan mewabahnya berbagai penyakit,   
      sebagai gambaran kecil dari perlakuan Nazi terhadap para tawanannya

Para tahanan Politik anak-anak disatukan dengan tahanan kriminal Israel : dalam bentuk khusus pada triwulan terakhir dari tahun 2000, ditemukan 60 tawanan politik dari kalangan anak-anak di penjara Tel Mond, dimana bagian anak-anak yang baru sekitar 27 kamar, yang dikhususkan bagi para kriminal, setiap kamar diisi oleh 2-3 tawanan, percampuran ini mengakibatkan pelangggaran terhadap hak-hak anak Palestina, bahkan biasanya mereka dipukuli dan disiram dengan air panas, tak sedikit diantara mereka yang dilukai dengan pisau atau dicabuli, hal ini jelas bertentangan dengan undang-undang perlindungan anak sedunia, mengenai penahanan mereka, terutama bertentangan dengan perjanjian Jenewa no. 370 dan 40 tentang hak-hak anak kecil, dan pada alinea 8C, yang menyebutkan harus ada pemisahan antara tahanan politik dan tahanan kriminal, merujuk kepada alinea II B undang-undang no. 10 dari perjanjian Internasional tentang hak-hak sipil dan politik, yang menyebutkan pembedaan terdakwa dari yang sudah baligh. Kemudian diulang pada alinea ke 3 dari undang-undang tersebut disertai pembedaan perlakuan menurut umur dan kasusnya masing-masing.
Intimidasi dan provokasi : walaupun tradisi yang dikenal secara hukum mengharuskan pemeriksaan dengan cara yang sopan tanpa menyentuh badan ataupun menanggalkan pakaian, tetapi mereka langgar semuanya, dengan memeriksa anak-anak ketika masuk atau keluar dari tahanan, seperti yang terjadi di penjara Tel Mond.
Tidak boleh dikunjungi pengacara : anak-anak tidak boleh dikunjungi pengacaranya, terutama pada waktu-waktu pergolakan politik, dimana mereka menutup dan menyegel kampung-kampung di kota-kota Palestina, yang mempersulit gerak dan idzin khusus kunjungan.
Pemberlakuan hukuman pemindahan dan isolasi : sesuatu yang biasa di jalankan oleh Israel terutama pada tawanan-tawanan politik, dengan memindahkan mereka dari satu penjara ke penjara lain dalam waktu berdekatan, untuk menghindari serangan atau gempuran, atau untuk menakuti serta menciptakan kekhawatiran bagi para pengunjung keluarganya.
Dilarang bawa telepon : pihak Israel menolak permintaan para tawanan untuk menggunakan telepon dengan alasan keamanan.
Pembedaan antar tawanan : pelanggaran terhadap hak-hak yang justru dinikmati oleh tawanan lain dari bangsa Zionis, seperti membawa telepon, kunjungan keluarga, bantuan hukum dan yang lainnya, kebanyakan tawanan Israel membawa unsur rasialis maka tak heran bila mereka dibedakan perlakuannya, mereka seolah penduduk Israel secara hukum.
Setelah itu ……………
Ini adalah beberapa contoh penyiksaan terhadap tawanan Palestina termasuk anak-anak, walau banyak sekali kasus-kasus yang belum terungkap yang memerlukan continuitas invesitagsinya, akan tetapi ini adalah tanggung jawab oraginsasi-organisasi HAM internasional secara umum terutama negara-negara arab, terkadang kita suka berteriak atas nama HAM terhadap masalah-masalah yang kecil dan sepele, akan tetapi kita tidak mendengar suara yang sama dari organisasi-organisasi ini terhadap tawanan Palestina. Apakah dalam pendanaan terhadap mereka dari Zionis Amerika atau Erofa lebih baik? sehingga membuat organisasi-organisasi ini diam, dan tidak mau bergerak ? guna mengungkap penyiksaan-penyiksaan, pelanggaran HAM yang terjadi pada tawanan Palestina. Mungkin ada beberapa organisasi HAM yang yang menolak dan bertindak dalam hal ini, akan tetapi mereka tidak berpengaruh banyak dibanding dengan yang lainnya, dan gerakan mereka sangat terbatas dibanding dengan kejahatan yang dilakukan Zionis terhadap tawanan Palestina.

Janji-Janji Palsu
Sesungguhnya masalah tawanan Palestina tidak akan teratasi kecuali pada masalah terbesar Palestina, yaitu masalah yang ada di ujung sana, karena tidak akan ada kata-kata maupun gerakan yang pasti dari Pemimpin Palestina yang baru “Pimpinan Abu Mazen” , kepemimpinan tersebut memilih untuk memberangus peralwanan dari rakyat Palestina dalam rangka memenuhi janji-janji kosong dari musuh yang terkenal tidak pernah melaksanakan janjinya.
Masalah tawanan Palestina tentunya juga masalah Palestina termasuk masa depan dan pilihan perlawanan. Kejadian apapun tidak ada nilainya dan tidak akan menimbulkan hasil yang diharapkan.
Dari sini kita menilai bahwa penggunaan seluruh media politik, hukum, informasi dan jihad adalah untuk mengentaskan masalah Palestina dan mencari penyelesaian Palestina dengan perlawanan, seperti yang dilakukan Hizbullah dengan tentaranya yang ternyata efektif dalam perlawanannya. Kita juga menilai rakyat Palestina sudah terbiasa terluka dan bersabar selama 50 tahun, mereka mampu membangun perjuangan ini. Hal ini hanyalah untuk membungkam suara-suara yang menghendaki penghentian perlawanan Intifadhah selamanya, inilah yang dilakukan rakyat Palestina dengan para tentara dan mujahidnya setelah terjadinya kesepakatan Oslo. Hal ini menghasilkan pengaruh yang besar dalam membungkam kekuatan yang nyata di Palestina, dengan demikian ini menjadi pilihan yang paling tinggi tanpa embargo atau terkena kehinaan . Wallahu A’lam.


400 Masjid dan 400 Gereja Dirobohkan Israel

Sebuah kesaksian yang disampaikan oleh seorang wartawan Israel, Gad'on Levy, dalam sebuah makalahnya di harian Israel Ha'aretz memberikan data akurat tentang kejahatan dan penindasan terencana Israel terhadap tempat-tempat suci di Palestina. Dalam makalahnya itu, Levy mengatakan:
Bersamaan dengan berdirinya entitas Yahudi Israel di Palestina, bersamaan itu pula mereka mulai menodai nilai-nilai bangsa lain. Tidak kurang dari 400 desa Palestina diporak-porandakan pada tahun 1948. Padahal ke-400 desa tersebut didalamnya ada 400 buah masjid yang juga ikut dihancurkan dan 400 buah gereja milik orang Nasrani tak luput dari kekejaman Israel tersebut. Israel tidak meninggalkan jejak sejarah apapun di desa-desa tersebut dan kuburan yang ada didalamnya dibongkar. Sedangkan masjid, ada yang dihancurkan dan ada yang dikotori.
Bahkan Israel tidak membiarkan bagian kecil dari kebebasan ibadah untuk dapat dirasakan oleh para penduduk desa-desa tersebut. Beberapa waktu lalu saja, pihak pemerintah kolonial Israel menutup Masjid At-Talabeah Lama di kota Yafa. Masjid tersebut adalah satu-satunya masjid yang masih ada di sana sejak penarikan pasukan Salib. Dalam harian lokal Tel Aviv disebutkan bahwa umat Islam, yang baru-baru ini menunaikan shalat di dalam masjid tersebut, merubah kehidupan para seniman sensitif Yahudi menjadi neraka 'jahannam'. Riuh redam suara shalat umat Islam itu mengganggu ketenangan mereka, maka sebagai balasannya adalah masjid tersebut ditutup.
Di sebelah utara desa itu, tepatnya di desa pertanian, Ben Ami di Jalel Barat, pihak pemeriktah kolonial Israel, beberapa pekan lalu, merobohkan satu-satunya masjid yang masih tersisa di desa yang porak-poranda tersebut. Aksi itu dipicu oleh keberanian penduduk desa melakukan shalat di dalam masjid. Namun pihak kolonial Israel mengklaim bahwa peristiwa perobohan masjid itu bernuansa politik dan akan membahayakan bagi eksistensi Yahudi di sana. Namun pemukiman radikal yang dibangun di kuburan Nabi Yusuf, bukan termasuk kegiatan politik praktis!??
Aksi penghancuran dan pengotoran tempat-tempat suci itu tidak hanya berhenti pada tahun 1948 saja, bahkan setelah tahun 1967, penjajah Israel memporak-porandakan puluhan desa di Golan. Israel tidak meninggalkan bekas tempat-tempat suci satu pun di desa-desa tersebut. Sedangkan pondasi-pondasi masjid yang masih tersisa, itu telah rusak dan kotor. Hingga akhirnya masjid-masjid lainnya yang ada di daerah itu berubah fungsi, ada yang berubah menjadi restoran makanan, klinik kesehatan atau dibiarkan rusak begitu saja tanpa diperbaiki. Kalau hal serupa ini dilakukan oleh seseorang di sebuah tempat di dunia, terhadap peninggalan sinagog atau kuburan Yahudi, maka tentulah Israel dan Yahudi internasional berang dan 'kebakaran jenggot'.