Daftar Blog Saya

  • Abu Ayub Al-Anshari - *Abu Ayub Al-Anshari* Nama lengkapnya Khalid bin Zaid bin Kulaib. Beliau berasal dari keluarga Bani Najjar Mendapatkan kehormatan untuk tempat singgah Ras...
    13 tahun yang lalu

Sabtu, 29 Desember 2012

10 Fase Menghancurkan Masjid Al Aqsha Telah Dilalui


10 Fase Menghancurkan Masjid Al Aqsha Telah Dilalui


               Israel tidak hanya pintar membuat teori menghancurkan masjid Al-Aqsha. Namun dengan culasnya, mereka telah melalui 10 fase untuk merobohkan tempat suci umat Islam ini untuk kemudian dibangun haikal Sulaiman di atas puing-puingnya. (tulisan kedua dari; 10 teori Israel menghancurkan Al-Aqsha)

-       Fase I : Dilakukan sejak tahun 1967 hingga akhir tahun 1968 dengan menggali terowongan 70 meter di selatan masjid Al Aqsha di belakang menara masjid.
-       Fase II : Dilakukan dari tahun 1969 hingga 1970 dengan menggali terowongan 80 meter dari pagar masjid Al Aqsha.
-        Fase III : Dilakukan dari tahun 1970 hingga 1973, Israel menggali terowongan di bawah Mahkamah Syariah dan di bawah lima pintu masjid Al Aqsha, Al-Musalsal, Al-Muthahirah, Al-Qatthanin, Al-Hadid, dan Alauddin Al-Basyri di samping terowongan yang ada di bawah empat masjid dan menara masjid Qaithabi dan Suuq Al-Qatthanin. Penggalian terowongan dan aktifitas yahudisasi ini menyebabkan sebagian dari bangunan Mahkamah Syariah berubah menjadi gereja dan peninggalan-peninggalan bersejarah perjuangan suku Kurdi Islam dan sekolah Al-Jauhariah mengalami kerusakan.
-       Fase IV-V: Dilakukan sejak tahun 1973 hingga akhir tahun 1975 dengan penggalian daerah bagian belakang gerbang selatan sepanjang bagian timur bawah masjid Al Aqsha, pagar masjid Al Aqsha bagian timur sepanjang 80 meter juga mencakup penggalian bagian bawah masjid Al Aqsha.
-       Fase VI: Aktifitas dilakukan mulai tahun 1975 dengan tujuan menghilangkan kuburan Sahabat Nabi dan mendirikan beberapa tempat pariwisata nasioal Israel di atasnya. Fase VII: Ini dilakukan sesuai dengan proyek Dewan Kementerian Israel tahun 1975 yang mencaplok infrastruktur milik Islam secara final hingga pagar Al-Barraq (al-Mabkaa) dan diteruskan dengan dilanjutkannya penggalian-penggalian di bawah bangunan Mahkamah Syariat dan perpustakaan Al-Khalidiah dan pojok Abu Madin al-Ghauts dan semuanya telah roboh ditambah 35 rumah warga lainnya.
-       Fase VIII: Fase yang berangkat dari permulaan tahun 80 an dengan mengusung simbol “mengungkap harta karun kerajaan Israel” ini merupakan penggalian yang sangat berbahaya yang pernah di alami oleh masjid Al Aqsha. Sebab banyak penggalian yang masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh Israel. sebagian penggalian ini diungkap oleh laporan kepala daerah Um Alfahm, Raid Shalah saat itu, lembaga Al-Aqsha dan departemen Waqaf di Al-Quds. Pada saat itu terjadi sempat terjadi bentrokan antara Israel dengan jamaah shalat. Di tengah bentrokan ini penggalian dimulai di bawah masjid Al Aqsha secara langsung.
-       Fase IX: Dilakukan pada tahun 1981. Pembukaan terowongan yang ditemukan Kolonel Inklizi Charles Warn dibuka dan kemudian ditutup kembali. Terowongan itu bermula di bagian bawah pintu Al-Muthahharah antara pintu Al-Silsilah dan Al-Qathanin hingga ke pintu Magharibah hingga ke bawah masjid Al Aqsha. Israel mengklaim bahwa tembok yang terdapat di terowongan adalah milik haikal Sulaiman yang mereka sebut dengan terowongan Hasyumunaim. Pada fase ini telah dilakukan penggalian terowongan di bawah bangunan Mahkamah Syariat tahun 1987 dan di bawah sekolah Al-Tankiziah. Terowongan berlanjut hingga ke sebelah utara masjid Al Aqsha. Akibat aktifitas penggalian ini sejumlah bangunan, gedung sekolah dan bangunan pertokoan mengalami kerusakan bahkan roboh. Penggalian ini juga mengakibatkan robohnya gerbang utama Departemen Waqaf roboh.
-       Fase X: Sebagian terowongan Hasyumunaim dibuka setelah hari raya Pengampunan Yahudi Senin 24 September 1999 dan panjangnya 250 meter. Pengumuman pembukaan yang dihadiri oleh pejabat tinggi Israel ini sontak memicu bentrokan antara Israel dan Palestina yang paling sengit karena masjid Al Aqsha. Pemerintah Israel buru-buru menutupnya. Israel telah menggali terowongan di bawah masjid Al Aqsha sepanjang 400 meter dari kampung Barat Arab memanjang hingga di pondasi-pondasi tembok Al-Barraq di bawah ke utara kampung Islami. Nawwaf al-Zuru, pakar Zionisme dan kepala lembaga informatika dan intelektual dan ketua lembaga tempat-tempat suci

Detik-Detik Terakhir Kewafatan Rasulullah SAW


Detik-Detik Terakhir Kewafatan Rasulullah SAW





Daripada Ibnu Mas'ud r.a., bahawasanya dia berkata: "Ketika ajal Rasulullah

saw sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aishah r.a



Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda:
Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah
menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada
kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi
peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah."



"Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat kami jadikan untuk orang-orang yang 
tidak
ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan
syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."



Kemudian kami bertanya: "Bilakah ajal baginda ya Rasulullah?"



Baginda menjawab: "Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadrat Allah, ke
Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila."



Kami bertanya lagi: "Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah?"



Rasulullah menjawab: "Salah seorang ahli bait."



Kami bertanya: "Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?"



Baginda menjawab: "Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah."



Kami bertanya: "Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?" Kami
menangis dan Rasulullah saw pun turut menangis.



Kemudian baginda bersabda: "Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua.
Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas
tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku. Kemudian 
keluarlah
kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah 
sahabatku
Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail 
(Malaikat
Maut) beserta bala tenteranya.



Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula2 solat
adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan
kemudian kamu semua."


SEMAKIN TENAT


Semenjak hari itu, Rasulullah saw bertambah sakitnya yang ditanggungnya selama
18 hari. Setiap hari, ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari
Isnin, disaat baginda menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sehari menjelang
baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius.



Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan azannya, dia
berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam:
"Assalamualaikum ya Rasulullah?"



Kemudian dia berkata lagi: "Assolah yarhamukallah."



Fatimah menjawab: "Rasulullah dalam keadaan sakit."



Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid. Ketika bumi terang disinari matahari
siang, maka Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu dia berkata seperti
perkataan yang tadi.



Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh dia masuk. Setelah Bilal bin
Rabah masuk, Rasulullah saw bersabda: "Saya sekarang berada dalam keadaan
sakit. Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam
solat."



Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil 
berkata:
"Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?" Kemudian dia
memasuki masjid dan memberitahu Abu Bakar agar beliau menjadi imam dalam solat
tersebut. Ketika Abu Bakar r.a. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong,
sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, dia tidak dapat menahan perasaannya
lagi, lalu dia menjerit dan akhirnya dia pingsan. Orang-orang yang berada di
dalam masjid menjadi bising sehingga terdengar oleh Rasulullah saw.



Baginda bertanya: "Wahai Fatimah, suara apakah yang bising itu?"



Siti Fatimah menjawab: "Orang-orang menjadi bising dan bingung kerana
Rasulullah saw tidak ada bersama mereka."



Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Talib dan Abbas r.a. Sambil
dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda
solat dua rakaat.



Setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda: "Ya ma aasyiral
Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah.
Sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua, setelah aku tiada. Aku
berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT kerana aku akan
meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam
akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."



MALAIKAT MAUT DATANG BERTAMU

Pada hari esoknya yaitu pada hari Isnin, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut
supaya dia turun menemui Rasulullah saw dengan berpakaian sebaik-baiknya.



Dan Allah menyuruh Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah saw dengan lemah
lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka dia dibolehkan masuk.
Tetapi jika Rasulullah saw tidak mengizinkannya, dia tidak boleh masuk dan
hendaklah dia kembali saja.



Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Dia menyamar
sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman 
Rasulullah
saw, Malaikat Maut itupun berkata: "Assalamualaikum wahai ahli rumah kenabian,
sumber wahyu dan risalah!"



Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: "Wahai Abdullah
(hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit."



Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: "Assalamualaikum, bolehkah saya
masuk?"



Akhirnya Rasulullah saw mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda 
bertanya
kepada puterinya Fatimah: "Siapakah yang ada di muka pintu itu?"



Fatimah menjawab: "Seorang lelaki memanggil baginda. Saya katakan kepadanya
bahawa baginda dalam keadaan sakit. Kemudian dia memanggil sekali lagi dengan
suara yang menggetarkan sukma."



Rasulullah saw bersabda: "Tahukah kamu siapakah dia?"



Fatimah menjawab: "Tidak wahai baginda."



Lalu Rasulullah saw menjelaskan: "Wahai Fatimah, dia adalah pengusir
kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur".



Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Masuklah, wahai Malaikat Maut."



Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan: "Assalamualaika ya
Rasulullah."



Rasulullah saw pun menjawab: "Waalaikassalam ya Malaikat Maut. Engkau datang
untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"



Malaikat Maut menjawab: "Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa.
Jika tuan izinkan akan saya lakukan. Jika tidak, saya akan pulang."



Rasulullah saw bertanya: "Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan
kecintaanku Jibril?"



Jawab Malaikat Maut: "Saya tinggal dia di langit dunia."



Baru sahaja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril a.s. datang lalu
duduk di samping Rasulullah saw.



Maka bersabdalah Rasulullah saw: "Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui
bahawa ajalku telah dekat?"



Jibril menjawab: "Ya, wahai kekasih Allah."




KETIKA SAKARATUL MAUT:


Seterusnya Rasulullah saw bersabda: "Beritahu kepadaku wahai Jibril, apakah

yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?"



Jibril pun menjawab: "Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan
malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu."



Baginda saw bersabda: "Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa
lagi yang telah disediakan Allah untukku?"



Jibril menjawab lagi: "Bahawasanya pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan
bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan 
buah-buahnya
telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu."



Baginda saw bersabda lagi: "Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu
lagi wahai Jibril, apa lagi yang disediakan Allah untukku?"



Jibril menjawab: "Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang
pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti."



Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Segala puji dan syukur aku panjatkan untuk
Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang 
menggembirakan
aku."



Jibril a.s. bertanya: "Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan
tanyakan?"



Rasulullah saw menjawab: "Tentang kegelisahanku. Apakah yang akan diperolehi
oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi
orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan
diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?"



Jibril menjawab: "Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya
Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat,
sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu."



Maka berkatalah Rasulullah saw: "Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku.
Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku."



Lalu Malaikat Maut pun mendekati Rasulullah saw.



Ali r.a. bertanya: "Wahai Rasulullah saw, siapakah yang akan memandikan
baginda dan siapakah yang akan mengafaninya?"



Rasulullah menjawab: "Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali,
sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak
wangi) dari dalam Syurga."



Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah saw. Ketika roh
baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: "Wahai Jibril, alangkah
pedihnya maut."



Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril a.s. memalingkan mukanya.



Lalu Rasulullah saw bertanya: "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka
memandang mukaku?"



Jibril menjawab: "Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka
baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?"



Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah saw.


KESEDIHAN SAHABAT MUAZ bin JABAL R.A

Berkata Anas r.a.: "Ketika aku lalu di depan pintu rumah Aisyah r.a., aku
terdengar dia sedang menangis sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak
pernah memakai sutera, wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut
yang tidak pernah kenyang dari gandum, wahai orang-orang yang telah memilih
tikar daripada singgahsana, wahai orang-orang yang jarang tidur diwaktu malam
kerana takut Neraka Sa'ir."



Dikisahkan dari Said bin Ziyad dari Khalid bin Saad, bahawasanya Muaz bin 
Jabal
r.a. telah berkata: "Rasulullah saw telah mengutusku ke Negeri Yaman untuk
memberikan pelajaran agama di sana. Maka tinggallah aku di sana selama 12 
tahun.
Pada satu malam aku bermimpi dikunjungi oleh seseorang. Kemudian orang itu
berkata kepadaku: Apakah anda masih lena tidur juga wahai Muaz, padahal
Rasulullah saw telah berada di dalam tanah?"



Muaz terbangun dari tidur dengan rasa takut, lalu dia mengucapkan:
"A'uzubillahi minasy syaitannir rajim." Lalu setelah itu dia mengerjakan
solat. Pada malam seterusnya, dia bermimpi seperti mimpi malam yang pertama.



Muaz berkata: "Kalau seperti ini, bukanlah dari syaitan." Kemudian dia
memekik sekuat-kuatnya, sehingga didengar sebahagian penduduk Yaman. Pada
keesokan harinya, orang ramai berkumpul lalu Muaz berkata kepada mereka:
"Malam tadi dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sukar untuk difahami.
Dahulu, bila Rasulullah saw bermimpi yang sukar difahami, baginda membuka 
Mushaf
(al-Quran). Maka berikanlah Mushaf kepadaku." Setelah Muaz menerima Mushaf,
lalu dibukanya. Maka nampaklah firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya kamu
akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula." (Surah Az-Zumar: ayat 30)




Maka menjeritlah Muaz, sehingga dia tidak sadarkan diri. Setelah dia sadar
kembali, dia membuka Mushaf lagi dan dia nampak firman Allah yang berbunyi:
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu akan
berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka 
dia
tidak dapat mendatangkan mudharat kepada orang-orang yang bersyukur?" (Surah
Al-lmran: ayat 144) Maka Muaz pun menjerit lagi: "Aduhai Abal-Qassim. Aduhai
Muhammad."



Kemudian dia keluar meninggalkan Negeri Yaman menuju ke Madinah. Ketika dia 
akan
meninggalkan penduduk Yaman, dia berkata: "Seandainya apa yang ku lihat ini
benar, maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin,
dan kita akan menjadi seperti biri-biri yang tidak ada pengembala."



Kemudian dia berkata: "Aduhai, sedihnya berpisah dengan Nabi Muhammad saw."
Lalu dia pun pergi meninggalkan mereka. Di saat dia berada pada jarak lebih
kurang tiga hari perjalanan dari Kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya 
suara
halus dari tengah-tengah lembah yang mengucapkan firman Allah yang bermaksud:
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."



Lalu Muaz mendekati sumber suara itu. Setelah berjumpa, Muaz bertanya kepada
orang tersebut: "Bagaimana khabar Rasulullah saw?" Orang tersebut menjawab:
"Wahai Muaz, sesungguhnya Muhammad saw telah meninggal dunia." Mendengar
ucapan itu, Muaz terjatuh dan tak sadarkan diri. Lalu orang itu 
menyadarkannya.
Dia memanggil Muaz: "Wahai Muaz, sedarlah dan bangunlah."



Setelah Muaz sedar kembali, orang tersebut lalu menyerahkan sepucuk surat
untuknya yang berasal dari Abu Bakar As-siddiq, dengan kop dari Rasulullah 
saw.
Tatkala Muaz melihatnya, dia lalu mencium kop tersebut dan diletakkan di
matanya. Kemudian dia menangis dengan tersedu-sedu. Setelah puas dia menangis,
dia pun melanjutkan perjalanannya menuju Kota Madinah. Muaz sampai di Kota
Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan
azan Subuh. Bilal mengucapkan: "Asyhadu Allaa Ilaaha Illallah?" Muaz
menyambungnya: "Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah." Kemudian dia
menangis dan akhirnya dia jatuh dan tak sadarkan diri lagi.



Pada saat itu, di samping Bilal bin Rabah ada Salman Al-Farisy r.a. lalu dia
berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal, sebutkanlah nama Muhammad dengan suara
yang kuat dekatnya. Dia adalah Muaz yang sedang pingsan." Setelah Bilal
selesai azan, dia mendekati Muaz, lalu dia berkata: "Assalamualaika, angkatlah
kepalamu wahai Muaz, aku telah mendengar dari Rasulullah saw, baginda 
bersabda:
Sampaikanlah salamku kepada Muaz." Maka Muaz pun mengangkatkan kepalanya
sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahawa dia
telah menghembuskan nafas yang terakhir. Kemudian dia berkata: "Demi ayah dan
ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada baginda, ketika baginda akan
meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal? Marilah kita pergi ke rumah
isteri baginda Siti Aisyah r.a."



Setelah sampai di depan pintu rumah Siti Aisyah, Muaz mengucapkan:
"Assalamualaikum ya ahlil bait, wa rahmatullahi wa barakatuh." Yang keluar
ketika itu adalah Raihanah, dia berkata: "Aisyah sedang pergi ke rumah Siti
Fatimah." Kemudian Muaz menuju ke rumah Siti Fatimah dan mengucapkan:
"Assalamualaikum ya ahlil bait."



Siti Fatimah menyambut salam tersebut, kemudian dia berkata: "Rasulullah saw
bersabda: Orang yang paling alim di antara kamu tentang perkara halal dan 
haram
adalah Muaz bin Jabal. Dia adalah kekasih Rasulullah saw." Kemudian Fatimah
berkata lagi: "Masuklah wahai Muaz." Ketika Muaz melihat Siti Fatimah dan
Aisyah r.a., dia terus pingsan dan tak sedarkan diri. Setelah dia sedar, 
Fatimah
lalu berkata kepadanya: "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sampaikanlah
salam saya kepada Muaz dan khabarkan kepadanya bahawasanya dia kelak dihari
kiamat sebagai imam ulama." Kemudian Muaz bin Jabal keluar dari rumah Siti
Fatimah menuju ke arah kubur Rasulullah saw.



Hikmah Yang Dapat dipetik Adalah :


Kita sebagai Umat Nabi Muhammad Saw hendaknya selalu mengikuti apa yang telah diajarkannya kepada kita, dan hendaknya kita juga selalu mencintai beliau seperti sahabat-sahabatnya maupun orang-orang terdekatnya.karena berkat kesabaran dan keteguhan hati beliaulah kita umat manusia selamat dari kejahiliaan.

Didalam kisah ini kita juga dapat ketahui, bahwa betapa sakitnya nyawa kita dicabut dari raga ,seperti sakaratul maut yang terjadi pada nabi Muhammad Saw, dapat kita bayangkan kekasih Allah merasakan betapa perihnya sakaratul maut itu, Seandainya sakaratul maut itu terjadi pada kita apa yang kita rasakan ?

4 Teori Israel Menghancurkan al-Aqsha


4 Teori Israel Menghancurkan al-Aqsha

       
         Nawwafal-Zuru pakar Zionisme dan kepala lembaga informatika dan intelektual dan ketua lembaga tempat-tempat suci Fasilitas penghancur Zionis Yahudi tidak berhenti pada niat dan rencana, bahkan mereka menciptakan beragam teori yang bermuara pada satu titik; menghapus tempat-tempat suci Islam dan membangun haikal. Baru-baru ini terbit buku di Israel dengan judul “Mimpi-mimpi di alam sadar”. Penulisnya mengagas empat teori untuk mengapus masjid al-Aqsha dan membangun haikal ketiga menggantikan tempat masjid yang merupakan kiblat pertama umat Islam ini. 
Teori pertama; penulis mengajak membangun sepuluh tiang sesuai dengan jumlah nasehat yang berada di dekat Tembok Barat di masjid al-Aqsha. Tinggi masing-masing tiang harus sejajar dengan halaman masjid sekarang. Di atas tiang ini mereka akan membangun “haikal ketiga”. Bangunan ini dihubungkan dengan sebuah tiang suci yang ada sekarang – seperti keyakinan mereka – di Qubbah Shakhra.

Teori kedua; membangun haikal ketiga dekat Tembok Barat (Barraq) sebalah barat masjid al-Aqsha dalam bentuk tiang. Bangunan haikal ini menjadi lebih tinggi dari masjid al-Aqsha dan terhubung lansung dengan halaman masjid dari dalam.
Teori ketiga; teori “Tranfer bangunan” maksudnya, menggali bagian sekeliling masjid Qubbah Shakhra dengan kedalam sedemikian hingga dan memindahkan bangunan masjid ke luar al-Quds, kemudian didirikan haikal disana.
Teori keempat; membangun haikal di reruntuhan masjid al-Aqsha setelah dihancurkan. Berangkat dari tujuan mengahapus masjid al-Aqsha dan membangun haikal, di kota al-Quds gerakan dan aktifitas baik rahasia atau terang-terangan mereka berusaha menerapkan empat teori ini.
Dalam laporan soal aktifitas kelompok Yahudi garis keras, mereka meningkatkan frekwensi aktifitasnya mendirikan haikal di wilayah masjid al-Aqsha yang mulia. Unjuk rasa yang mereka lakukan atas nama “Dewan pendiri jabal haikal” bukan satu-satunya aktifitas mereka dalam hal ini. (Harian al-Quds 11/09/1999) Dalam laporan berikutnya, di jajaran penentu kebijakan dan keputusan di Israel dibicarakan secara hangat prakarsa Dr. Yavreh Zeberman dari lembaga Pusat al-Quds untuk Studi Israel. Yaitu; prakarsa pembangunan tempat Yahudi di daerah galian di tembok selatan masjid al-Aqsha di antas tiang-tiang tanpa menimbulkan kerusakan pada tempat-tempat peninggalan yang terdapat di tembok Barat. Bangunan ini akan sejajar dengan masjid tanpa berdempetan dengan tembok selatan. Prakarsa ini juga mencakup pembangunan pusat keagamaan bagi semua aliran dan sekte Yahudi. Juga mencakup pemisahan tempat-tempat shalat antara atap bagian atas al-Aqsha dan atas bagian bawah namun untuk mencapai penggunaan tempat-tempat ini dilakukan melalui perundingan. Sumber-sumber Israel mengungkap, kelompok-kelompok garis keras Yahudi yang berupaya membangun haikal di tempat masjid al-Aqsha dalam sebulan telah menyiapkan obor emas seperti obor emas yang digunakan dalam era haikal kedua. Pembuatan obor emas ini menghabiskan sekitar 42 kg emas murni. Biaya pembuatan menelan sekitar 5 juta Syekal sumbangan dari seorang pebisnis Yahudi Ukraina, Vadem Robinufities.
Harian Kuul Hair bahwa Lembaga Kajian Haikal Israel adalah lembaga kajian yang didirikan oleh kelompok Yahudi garis keras terutama Dewan Pendirian Jabal Haikal yang membuat fasilitas lain untuk digunakan dalam haikal tersebut termasuk tempat penyembelihan dari bahan emas dan meja. Lembaga Kajian Haikal yang berada di Baldah (kota setingkat kecamatan) Lama di al-Quds berdasarkan keyakinan Yahudi, sudah ada sample (dami) obor plastik. Dua tahun lalu, para pemimpin lembaga kajian ini mengunjungi milyoner Yahudi dari Ukraina untuk mendanai pembelian emas yang akan digunakan sebagai pelapis obor dami. Harian yang diatas menyebutkan bahwa kelompok ekstrim Yahudi meneruskan penyiapan sarana-sarana yang digunakan untuk mewujudkan pembangunan haikal. (harian Hair Israel 02/10/1999). Sumber-sumber investigasi menyatakan, sejumlah kelompok garis keras Yahudi belakangan ini menyetujui ditingkatkan dan diintensitaskan upayanya untuk mengembalikan Haikal Suci milik Yahudi di al-Quds.
Harian Hartezl edisi 01/03/2003 bahwa gerakan kanan ekstrim mengintensitaskan upaya penguasaan Yahudi terhadap masjid al-Aqsha. Di antaranya dengan cara membuka badan pengumpulan dana khusus dengan sebutan “utsar hamkadas” (kotak dana haikal suci). Badan secara resmi dibentuk sebagai lembaga wakaf Yahudi dan tercatat di departemen kehakiman Israel. Tujuannya adalah menggalang dan mengumpulkan sumbangan dana untuk membangun haikal suci ketiga, mendanai semua aktifitas untuk membangun haikal. Salah satu kelompok Yahudi ektrim yang turut terlibat adalah Profesor kanan ekstrim Hailal Fais tinggal di permukiman Wad Qana utara Salvit, Lembaga Kajian Haikal Suci, gerakan “hidup dan abadi” gerakan “ini tanah kami” gerakan “perempuan untuk Bet al-Quds” gerakan “Jabal Hamer”. Belakangan Karmi Gailon mantan kepala keamanan rahasia Israel “Shinbet” menyatakan bahwa usai penarikan terakhir pasukan Israel dari gurun Saina tahun 1982 peledakan Qubah Shakhra dan masjid al-Aqsha oleh kelompok garis keras Yahudi sudah siap dilakukan.
Namun salah satu perancang peledakan tersebut ragu pada tahapan terakhir. Gailon menegaskan bahwa orang merencakan jumlahnya tiga orang yang kental ideologinya mereka adalah Dani Barie, Yushak ben Syusyan, Yahuda Atsiun dan satu orang lagi yang dipanggil Munahim Liveni, pembantu di militer Israel bagian persenjtaan. Kelompok ini berhasil pada masa itu mengkader 21 orang dan mengumpulkan informasi dan melakukan keliling lokasi di masjid al-Aqsha. Salah satu dari mereka bersembunyi di sebuah jalan dengan mengenakan kostum paranormal yang mengaku dukun dari Peracis yang melakukan penelitian di masjid al-Aqsha. Ia mengaku ingin melakukan studi mengukur jarak antara tiang-tiang yang menyangga Qubah Shakhra. Para penjaga masjid kemudian membantunya tugasnya. Selama dua tahun Liveni mengembankan alat khusus untuk menghancurkan tiang-tiang penyangga Qubah. Ia kemudian menyimpulkan, harus menggunakan bahan peledak berkekuatan tinggi. Sayangnya bahan peledak ini tidak ditemukan Liveni kecuali di kesatuan persenjataan milik militer Israel dan jumlahnya dibawah pengawasan. Ia kemudian menggunakan solusi “Naga Bergetar” atau roket panjang dan ekornya memuar bahan peledak pilihan dalam jumlah besar. Menjelang tahap akhir pelaksaan peledakan Liveni yang merupakan pemeran kunci ragu. Ini terhadi sekitar 1982. Pada tahun 1984 polisi Israel menangkap sisa anggota kelompok ini yang sedang menunggu kesemapatan untuk melakukan rencana peledakan. bersambung (ATB)